ini namanya cerpen

Nyanyian Untuk Ibu

‘aku ingin menjadi penyanyi yang mempunyai suara bagus, aku ingin menghibur orang dengan menyanyikan sebuah lagu, tapi apakah aku bisa?

‘ Kertas, buku catatan, dan pulpen atau pensil barang-barang itu selalu ada menyertaiku kemana pun aku berada barang itu selalu ada karena tanpa barang itu aku tak mungkin bisa berkomunikasi dengan orang. Aku tak bisa meyalahkan tentang keadaan aku yang seperti ini, karena ini takdir dan kata ibu aku harus mensyukuri semua nikmat yang diberikan oleh Allah begitu juga dengan keadaan aku yang tidak bisa berbicara atau disebut bisu. Aku memang sudah tidak bisa berbicara sejak lahir hingga sekarang. Dan kata dokter pun kemungkinan sangat kecil untuk bisa berbicara, berbagai terapi pun sudah dicoba tapi hasilnya pun nihil, tidak ada hasilnya aku tetap tidak bisa berbicara hingga sekarang. Terkadang aku iri dengan orang yang bisa berbicara. Mereka bisa berkomunikasi dan berekspresi sesuka mereka, aku? apakah bisa? Yang bisa bahasaku saja tak banyak orang yang bisa bahasa isyarat itu, dan yang bisa di dalam keluargaku saja hanya ibu yang bisa, karena hanya ibu yang peduli sama aku di keluargaku, hanya ibu yang ingin berbicara denganku, hanya ibu.

Ibu bagiku adalah segalanya aku bisa setegar ini karena ibu, aku hampa tanpa ibu, ibu selalu ada di sampingku. Ketika aku terjatuh akan berbagai ejekan dari berbagai orang yang tak mengerti diriku dan tak sedikit orang yang mengejekku entah itu temanku, entah itu tetanggaku, atau orang-orang yang tak kukenal, bahkan mereka menamaiku atau memanggilku dengan sebutan ‘si bisu’ sungguh aku sedih tetapi ketika itu ibu ada mengangkat diriku mengingatkanku akan bersyukur dan selalu kuat. Ibuku selalu mengingatkanku supaya aku jangan bersedih, ibu selalu bilang “Allah ada Ariza anakku” iya aku percaya Allah ada untukku, Allah tau apa yang aku rasakan, Allah tau semua tentangku.

Waktu aku kecil aku senang sekali nonton TV, acara yang senang sekali aku lihat yaitu acara yang selalu ada orang menyanyi. Entah mengapa aku suka sekali melihat orang menyanyi karena aku bisa terhibur dan dari kecil aku ingin bisa menyanyi tapi itu suatu yang tidak mungkin terjadi. Aku pun menulis di kertas sewaktu itu “IBU AKU INGIN MENYANYI SEPERTI ARTIS ITU” ketika melihat pesan dariku ibuku langsung tersenyum dengan matanya yang bersinar seakan mata ibu bilang kalau aku bisa menyanyi dan ibu pun berkata “bernyanyilah nak sesukamu, kamu bisa bernyanyi, bernyayi yah nak untuk ibu”. Kata-kata ibu selalu ku ingat dan kata-kata ibulah yang selalu menguatkanku. Ketika itu datanglah ayah sepulang dari kantor, dan ayah pun berkata “percuma sampai kapanpun kamu tidak bisa berbicara apalagi bernyanyi”. Sungguh sakit sekali hatiku seperti ada benda tajam yang menusuk hatiku. Ibu langsung menyuruhku ke kamar dan berbisik “jangan kau dengar kata ayahmu kamu harus selalu yakin nak percaya pada ibu” ibu langsung menuntunku ke kamar. Di dalam kamar aku mendengar suara ibu dan ayah yang sedang bertengkar karena keadaanku, aku menangis sungguh aku sedih. Sampai sekarang pun ibu dan ayah terkadang bertengkar karena keadaanku yang seperti ini. Aku bingung apa yang harus kulakukan.

Setiap pagi ibu mengantarkanku ke sekolah, aku duduk di bangku SMP dan aku bersekolah di SLB yang dekat dengan rumahku. SLB, sekolah luar biasa karena di sekolah tersebut berisi orang-orang yang luar biasa dan aku pun termasuk orang yang luar biasa. Disana banyak orang yang kurang beruntung bukan hanya aku. Aku pun mempunyai teman di sekolahku dia sekelas denganku, dia bernama Dita. Dita sama sepertiku dia tak bisa berbicara tapi dia tak pernah terlihat sedih berbeda denganku. Apabila aku sedih dia selalu terseyum dan berkata dengan bahasa kita (orang-orang bisu) “buat apa sedih memikirkan nasib, Ariza memang nasib kita seperti ini jadi buat apa kita bersedih banyak orang yang kurang beruntung lebih baik TERSENYUM masih ada bintang yang selalu bersinar dan masih ada pelangi jadi kamu tak boleh bersedih”. Dita memang sangat kuat dia selalu marah apabila melihat aku bersedih padahal dia lebih kurang beruntung dibanding aku, aku masih punya ibu, Dita tak mempunyai ibu tetapi dia masih bisa tersenyum dan tidak mau melihatkan kesedihannya padahal aku tau dia sangat kesepian.

Ayah, terkadang aku selalu merasa tidak mempunyai ayah padahal aku sangat ingin berbicara dengan ayah tapi menatapku saja ayah tidak mau apalagi berbicara. Mungkin ayah malu karena mempunyai anak seperti aku, tak bisa berbicara, mungkin ayah iri dengan temannya yang mengenalkan anaknya yang meraih banyak prestasi sedangkan aku berbicara saja tidak bisa. Jujur saja aku menyimpan rasa sebal dengan ayahku apalagi ketika kejadian yang belum lama aku lihat. Sebenarnya aku menyimpan sesuatu dari ibuku dan ibu tidak mengetahuinya, ketika aku pulang dari sekolah dan ketika itu ibu sedang sibuk jadi ibu tidak menjemputku akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Ketika aku berjalan aku melihat sebuah motel yang sangat sepi aku penasaran dengan keadaan di dalam motel tersebut, karena penasaran aku melihat motel tersebut dari jauh, dari jauh aku lihat ada sesosok wanita berpakaian yang tidak sopan agak terbuka. Wanita tersebut memakai baju merah, dan wanita tersebut seperti menunggu seseorang, tidak lama kemudian datanglah sesosok pria, pria tersebut tak asing di mataku, wanita tersebut menyambut pria itu dengan kecupan di pipinya. Aku agak mendekat ke arah motel karena aku merasa tidak asing dengan pria tersebut ketika aku mendekat, astagfirullah ternyata pria itu adalah ayahku. Ingin rasanya aku berteriak, sungguh sakit hatiku, dan air mataku keluar dengan derasnya. Aku berlari meninggalkan tempat itu. Ya Allah apa yang ayah lakukan di tempat itu? Ketika itu rasa sebal yang ada di hatiku. Aku terus berlari dan aku berhenti di sebuah masjid. Dengan segera aku mengambil air wudhu dan sholat. Di masjid aku menangis terus dan berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah kenapa ayahku melakukan itu? kenapa ayahku berduaan dengan wanita lain dan itu bukan ibuku? aku tak tau apa yang ayah lakukan aku tak mengerti tapi yang aku tau ayah mengkhianati ibu, aku terima apabila ayah membenci aku tapi tak seharusnya ayah mengkhianati ibu, ibu setia sama ayah tapi mengapa ayah melakukan itu? apa ini salahku ya Allah sehingga ayah tega melakukan itu? ya Allah apa yang harus aku lakukan? ya Allah berikan petunjuk kepadaku’. Sampai sekarang pun aku menyimpan rahasia tersebut aku jadi merasa asing dengan ayahku, rasa sebal itu pun masih ada hingga sekarang apa itu bisa disebut sebagai seorang ayah?

Ibu sedang sibuk dengan pekerjaannya, di rumah aku sendiri. Aku ingin membantu ibu akhirnya aku merapihkan rumah. Ketika aku membersihkan kamar ibu, aku menemukan sebuah buku berdebu dan sudah usang di belakang lemari. Aku ingin membuka buku tersebut tapi aku takut dan pada akhirnya aku memutuskan mambaca buku tersebut, ternyata buku tersebut adalah buku diary ibuku, di buku tersebut di tuliskan ketika ibu remaja hingga sekarang. Dan lembar-lembar terakhir di buku tersebut menuliskan ketika ibu mengandung,

tak terasa kini sebentar lagi aku manjadi seorang ibu. Akhirnya aku menikah dengan mas Heri dan sekarang aku mengandung anaknya, aku sedang hamil 9 bulan, sebentar lagi anakku lahir, aku sudah tak sabar ingin melihat anakku. Hasil USG anakku diperkirakan perempuan pasti anakku cantik. Aku ingin mendengar tangis anakku, aku ingin mendengar anakku menyebutku dengan panggilan ‘ibu’.

Aku menangis, air mataku terus mengalir dan ternyata ibu sudah datang ibu melihat buku yang aku pegang dan ibu juga melihatku yang sedang menangis, ibu menghampiriku tapi aku langsung meninggalkan ibu dan masuk ke kamar. Ibu pun menyusulku ke kamar, “kamu kenapa nak? Boleh ibu pinjam bukunya? Ibu ingin melihat buku itu.” (dengan bahasa isyarat) Aku pun memberikan buku itu, ibu membaca buku itu smbil tersenyum, “jadi kamu menangis karena ini?” aku mengangguk. Aku pun mulai menggerakkan tanganku dan aku berbicara dengan bahasa isyarat “maafkan aku ibu, aku tidak bisa memanggil ‘ibu’ aku seperti yang tidak diharapkan ibu, maafkan aku ibu.” Ibu menghapus air mataku dan berkata,”kamu tidak bersalah nak dan tidak ada yang bersalah apapun yang terjadi ibu tetap sayang kamu, dan kamu bisa memanggil ‘ibu’ dengan bahasa isyarat ibu bisa mendengar nak.” Aku pun langsung memeluk ibu. Oh ibu, aku sangat sayang padamu.

Ya Allah aku ini sangat beruntung mempunyai ibu yang sayang padaku dan aku juga masih punya ayah walaupun ayah seperti itu tapi aku tetap dan harus sayang sama ayah. Hari ini hujan besar aku kedinginan dirumah aku sendiri ayah ibu belum pulang, aku ke kamar mengambil jacket. Sekilas aku melihat ke dinding, di dinding tersebut menempel bingkai foto dan terdapat foto aku dan ibu. Aku memandang foto itu dengan lama. Entah mengapa aku kangen ibu dan ibu belum juga pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu ibu diluar walaupun dingin. Tak lama sosok ibu terlihat dari seberang rumah. Aku melambaikan tangan dari teras rumah, ibu pun tersenyum melihatku. Ibu segera menyebrang tetapi ada mobil yang sedang mengebut, aku ingin berteriak ‘AWAS’ tapi aku tak bisa dan ibu pun tak melihat mobil tersebut dan akhirnya ibu terkapar di jalan dan berhamburan darah. “IBUUUU!!” aku berlari ke arah ibu. “ibu bangun, ibu bangun.”Aku menagis sambil mernagkul ibu. Ibu pun membuka mata “nak alhamdulillah kamu bisa bicara. Suara kamu bagus nak, sepertinya tugas ibu sudah selesai.” Aku menangis kencang, “ibu tidak boleh bicara seperti itu aku masih butuh ibu.” Ibu tersenyum, “asyhadualah ilaha illallaullah wa asyhaduana muhhamadarasulullah.”

Aku tak menyangka ibu meninggalkan aku untuk selamanya, aku menangis tak henti. Padahal orang-orang sedang membaca yasin. “daripada kamu menangis mending kamu membaca ini, buat ibumu nak.” Alhamdulillah akhirnya ayah mau berbicara denganku dan memberiku yasin. Ayah pun duduk disebelahku, ayah menghapus air mataku dan mulai membacakan yasin untuk ibu, aku pun mulai membacakan yasin. Selesai membacakan yasin aku mencium ibuku untuk terakhir kalinya. Selamat tinggal ibu, aku selalu sayang sama ibu, ibu selalu ada di hatiku.

Selesai pemakaman aku duduk di teras sambil melamun, mengingat kejadian waktu ibu kecelakaan, “ibu andai saja waktu itu aku berteriak pasti ibu masih ada disini, ibu kok cepat banget ninggalin aku.” Aku menangis lagi sambil merangkul kakiku, dan tak lama datanglah ayah duduk disampingku, “itu sudah takdir, maafkan semua kesalahan ayah yah, ayah sangat menyesal menyueki kamu, tidak menganggap kamu, bahkan ayah pun menyesal sudah mengkhianati ibu,” ayah pun menangis. Aku melihat ayah sepertinya ayah sangat menyesal dengan perlakuannya terhadap aku dan ibu, “iya aku maafin ayah, aku juga tetap sayang sama ayah, aku juga tau waktu itu ayah ke motel dan bertemu dengan wanita berbaju merah dan agak terbuka, dan wanita tersebut menyambut ayah dengan kecupan di pipi ayah, aku lihat itu.” Aku menatap dalam wajah ayah. “nak ayah benar-benar minta maaf, ayah benar-benar menyesal,” ayah terus menangis tak henti, aku baru pertama kali melihat ayah seperti ini. “ayah jangan minta maaf ke aku ayah minta maaf ke ibu sama ke Allah, ayah harus bertaubat.”

Keesokan harinya aku pergi ke tempat dimana ibu dikuburkan aku membawa bunga angrek kesukaan ibu. Aku menatap batu nisan yang tertulis nama ibu, aku tak menyangka nama ibu tertera di batu nisan itu. Aku berdoa untuk ibu disana, aku guyur air dari batu nisan ke tanah, “ibu ini aku Ariza, aku kangen sama ibu, aku mau ikut ibu. Ibu sekarang aku udah bisa berbicara dengan lancar, ayah sudah berubah. Tapi ini semua tidak lengkap tanpa ibu, coba ibu ada pasti kita jadi keluarga bahagia. Ibu aku kan punya janji sama ibu, ibu inget waktu itu ibu menyuruhku menyanyi, ibu bilang ‘nyanyikan sebuah lagu buat ibu’ aku mau nyayi buat ibu, ibu denger ya!” aku menyanyikan sebuah lagu untuk ibu lagu, aku menyanyikan lagu yang berjudul ‘bunda’.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.